TK Park, Taman Ilmu nan Modern
28 Oktober 2016
Masa Depan Perpustakaan vs Perpustakaan Masa Depan
1 November 2016
Show all

Satu Dekade Hanjaba : Refleksi Misi Literasi

Oleh Norma Tridiana

Peserta Lomba Penulisan Narasi

Peserta lomba penulisan narasi Berkompetisi dalam meresensi buku dalam hanjaba 2016

Menyebut kata perpustakaan, agaknya menjadi frase yang kurang akrab di telinga masyarakat Jakarta. Perpustakaan kalah beken dengan berbagai pusat perbelanjaan dan taman hiburan yang menawarkan berbagai acara kreatif.  Lebih miris lagi, masyarakat sangat akrab dengan kata museum, namun tidak demikian dengan kata perpustakaan. Tingkat popularitas museum yang lebih tinggi dari perpustakaan, menjadi sebuah tanda tanya tersendiri, mengapa hal itu bisa terjadi. Tanpa bermaksud mengecilkan museum, namun keberadaaan museum juga lekat dengan stigma tempat yang kurang menyenangkan dan membosankan. Namun agaknya museum lebih cepat bangkit menyadari pentingnya perubahan tampilan dan melakukan promosi yang lebih gencar, tak dapat dipungkiri cara ini sangat efektif meningkatkan popularitas museum di Jakarta. Keberhasilan museum tentu saja menjadi cambuk bagi seluruh komponen yang bergerak di bidang perpustakaan untuk melakukan perubahan serupa jika ingin perpustaakaan lebih dikenal oleh masyarakat Jakarta.

Jika diteliti ke belakang, keberadaan perpustakaan harusnya menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat yang keberadaannya menjadi jantung peradaban dan perkembangan masyarakat modern. hal tersebut bukan sebuah jargon semata,  namun telah dibuktikan dengan sejarah panjang perpustakaan dari jaman ke jaman khususnya di negara maju (negara barat).

Evaluasi popularitas perpustakaan, mengungkap salah satu alasan kurang tenarnya perpustakaan di masyarakat adalah karena kurang promosi. Hal ini yang manjadi dasar utama dalam perubahan strategi pemasaran perpustakaan di Jakarta. Berbagai acara digagas perpustakaan dalam mengenalkan perpustakaan di masyarakat. Kegiatan kreatif dan turun ke masyarakat kerap dilakukan guna menarik minat masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas perpustakaan. Salah satu cara yang dipilih Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DKI Jakarta untuk promosi perpustaaan adalah dengan menggelar berbagi kegiatan dan lomba. Salah satu kegiatan yang menjadi ajang rutin sekaligus ikon BPAD Provinsi DKI Jakarta adalah Hari Anak Jakarta Membaca (Hanjaba).

Hanjaba diselenggarakan pertama kali pada tahun 2006 dengan mengundang pelajar di kawasan Jakarta untuk ikut serta dalam berbagai lomba yang bertema literasi. Selasa (30/8) di gelar pembukaan Hanjaba 2016 di Perpustakaan Umum Cikini. Dalam sambutannya, kepala BPAD Provinsi DKI Jakarta, Tinia Budiati menyebutkan “Hanjaba telah menginjak usia ke-10 tahun, diharapkan melalui kegiatan ini akan menciptakan anak-anak dan generasi yang dapat menjadi pemimpin di bidang literasi.

Menoleh ke belakang tentang penyelenggaraan Hanjaba, ada perubahan signifikan yang menjadi pembeda antara penyelenggaraan Hanjaba 2 (dua) tahun terakhir dan tahun-tahun sebelumnya. Hanjaba pada tahun 2010-2014 dilaksanakan dengan gegap gempita dan mengundang berbagai tokoh dan bintang tamu penyanyi top di Indonesia. Tantowi Yahya, Andy F. Noya, Raisa dan Cherybelle pernah memeriahkan acara Hanjaba. Tak dapat dipungkiri wajah dan pamor para tokoh dan selebitis Indonesia dapat menyedot perhatian masyarakat umum. Pemilihan tempat Hanjaba juga telah berpindah dari mulai Gelanggang Mahasiswa Soemantri Brodjonegoro, Teater Taman Ismail Marzuki, Taman Tugu Proklamasi dll.

Acara dan lomba yang disenggarakan pun mengalami perubahan dari tahun ke tahun, sebut saja lomba mewarnai, mendongeng, pidato bahasa inggris, membuat desain poster perpustakaan, lomba bercerita untuk orang tua, lomba puisi, resensi buku, dan yang paling baru adalah lomba menulis konten blog. Pemilihan lomba tentu saja hasil evaluasi penyelenggaraan Hanjaba pada tiap tahun dan mengikuti perubahan tren masyarakat serta memperhatikan perkembangan teknologi informasi. Pemilihan lomba juga bukan tanpa dasar, seperti tujuan utama penyelenggaraan Hanjaba, yaitu untuk mempromosikan perpustakaan dan meningkatkan minat baca masyarakat, maka pemilihan lomba harus berhubungan dengan dunia literasi dan menjadikan buku dan membaca sebagai “core” utamanya.

Gegap gempita dan kemewahan Hanjaba beberapa tahun silam tidak lagi tampak pada penyelenggaraan Hanjaba pada 2 (dua) tahun terakhir. Evaluasi dan target sasaran yang ingin di capai menjadi dasar perubahan. Hal ini juga seusai dengan arahan Gubernur DKI Jakarta yang lebih menyarankan penyelenggaraan kegiatan di tengah masyarakat Jakarta. Hanjaba Tahun 2015 dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan, hal ini tentu saja sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Esensi penyelenggaraan Hanjaba lebih terasa dengan cara ini, karena belum tentu semua instansi mau menyelenggarakan acara di LP dan perpustakaan menjadi salah satu pioner untuk mendobrak tradisi kemewahan kegiatan lomba-lomba. Keberadaan perpustakaan justru terasa sangat dibutuhkan di salah satu sudut Jakarta yang sering dilupakan masyarakat. Memberikan hiburan, mengedukasi dan menumbuhkan semangat untuk suka membaca menjadi  salah satu tujuan utama penyelenggaraan Hanjaba di LP. Walaupun Hanjaba tidak merubah pakem lomba khususnya untuk lomba yang bersifat berjenjang dan terlebih dahulu telah dilaksanakan di tingkat KPAK dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Namun cara ini diharapkan dapat menyentuh lapisan lain masyarakat yang juga butuh informasi dan mendambakan kesetaraan dalam akses informasi dan perpustakaan.

Hanjaba tahun 2016 yang diselenggakaan di Perpustakaan Umum Cikini mengusung tema “Apresiasi Literasi Digital” dan mengangkat Aplikasi Ijakarta sebagai sumber referensi utama. Hal ini tentu saja sesuai dengan misi Gubernur DKI Jakarta, dan diimplementasikan oleh Kepala BPAD Provinsi DKI Jakarta yang ingin memasyarakatkan perpustakaan digital Ijakarata untuk jadi solusi atas kendala jarak dan akses perpustakaan di Jakarta. Ajang Hanjaba tahun ini juga semakin spesial dan mengajak salah satu unsur masyarakat yang sering terlupakan, yaitu penyandang disabilitas. Hanjaba 2016 tidak hanya menjadi ajang pesta untuk siswa-siswi yang bersekolah secara normal, namun menjadi agenda yang dinanti oleh siswa dari berbagai sekolah berkebutuhan khusus yang ada di Jakarta. Mereka adalah bagian dari masyarakat Jakarta yang harus diberikan akses terhadap buku dan menjadi tugas BPAD untuk mengenalkan serta menanamkan semangat literasi, itulah semangat yang coba ditularkan melalui penyelenggaraan Hanjaba di usianya yang ke-10. WhatsApp Image 2016-08-31 at 08.01.24(2)

Sejarah panjang dan napak tilas perjalanan Hanjaba selama satu dekade, tidak lengkap tanpa mengetahui sejauh mana  keberhasilan promosi perpustaakaan melalui ajang ini. Apakah minat baca masyarakat Jakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun melalui cara ini? Untuk menjawab hal tersebut tentu saja dibutuhkan kajian dan riset panjang dan melibatkan seluruh komponen masyarakat, tidak hanya BPAD Provinsi DKI Jakarta. Namun, tak dapat dipungkiri melalui acara Hanjaba pamor perpustakaan di mata masyarakat Jakarta terangkat. Tidak hanya dikenal sebagai ajang lomba tahunan, namun keberadaan perpustakaan di 5 Wilayah Kota Administrasi dan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu telah jadi salah satu destinasi literasi masyarakat. Perpustakaan telah menjadi salah satu destinasi yang “seksi” dan kerap diperbincangkan oleh masyarakat. Hal ini dapat terlihat juga dari antusiasme media dalam meliput berbagai kegiatan yang berhubungan dengan perpustakaan di Jakarta. Ini dapat dijadikan indikator keberhasilan Hanjaba dalam mengangkat popularitas Perpustakaan Jakarta.

Lalu apakah puas hanya sampai di sini? Tentu saja jawabnya tidak, justru keberhasilan ajang Hanjaba selama satu dekade, menuntut BPAD Provinsi DKI Jakarta untuk terus berinovasi dan mencari format Hanjaba yang lebih baik dan terbaik guna melayani masyakat Jakarta. Karena sejogjanya Hanjaba tidak berhenti sampai disini dan akan terus berubah sesuai dengan kebutuhan dan perubahan jaman, seperti kutipan salah seorang tokoh “Perubahan itu harus dijemput, Ia tidak bisa ditunggu”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *