Satu Dekade Hanjaba : Refleksi Misi Literasi
28 Oktober 2016
Perpustakaan Unik di Dunia
1 November 2016
Show all

Masa Depan Perpustakaan vs Perpustakaan Masa Depan

Oleh Norma Tridiana

Sebuah tanda tanya besar menghantui keberadaan perpustakaan di masa yang akan datang. Apakah perpustakaan secara fisik akan tetap ada di era 20-30 tahun mendatang? Lalu bagaimana bentuk perpustakaan pada masa mendatang? Apakah buku tercetak akan tetap ada di perpustakaan atau tergantikan dengan buku elektronik?
Pertanyaan itu yang kerap menjadi perbincangan di kalangan pustakawan dan praktisi perpustakaan. Tidak dapat dipungkiri perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak yang luar biasa bagi kehidupaan manusia, tak terkecuali dampak bagi dunia perpustakaan. Kekhawatiran akan lenyapnya perpustakaan konvensional dan tidak adanya koleksi perpustakaan secara fisik menjadi salah satu isu yang paling dibicarakan. Spekulasi tentang hal tersebut berhembus tak menentu, namun tidak ada yang bisa memastikan bentuk perpustakaan di masa depan.
Ilmu pengetahuan dan perpustakaan

Menjawab keresahan dan spekulasi tentang kepunahan perpustakaan pada masa depan, terkesan terlalu berlebihan, seperti telah disebutkan bahwa perpustakaan telah ada sejak adanya kebudayaan manusia. Peradaban selalu berubah dan berkembang, perpustakaan juga mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan kehidupan manusia. Perpustakaan merupakan sumber informasi dan pengetahuan, keberadaannya tidak hanya mengumpulkan pengetahuan, namun lebih dari dari itu pengetahuan disebarluaskan melalui perpustakaan dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat.

Memahami fungsi dan manfaat perpustakaan dalam pengumpulan dan penyebarluasan pengetahuan dan informasi, menimbulakan keyakinan akan keberadaan perpustakaan pada masa mendatang. Melihat sejarah puluhan hingga ribuan tahun lalu, keberadaannya telah ada hingga sekarang, tetap ada dan semakin berkembang. Berbekal dengan sejarah panjang eksistensi perpustakaan dari masa ke masa, menimbulkan optimisme bahwa perpustakaan tidak mungkin hilang selama pengetahuan dan informasi masih dibutuhkan oleh manusia di muka bumi ini. Keberadaan manusia untuk terus mencari tahu dan menggali sesuatu untuk berbagai kebutuhan, akan menjadi dasar kekekalan perpustakaan di masa sekarang dan masa yang akan datang.

Optimisme keberadaan perpustakaan di masa yang akan datang tetap ada dan menjadi salah satu sumber informasi dan rujukan telah menjawab pertanyaan tentang eksistensi perpustakaan. Namun bentuk perpustakaan masa depan akan seperti apa? Menjawab pertanyaan ini, buku Portal To The Past and To The Future : Libraries in Germany, karya Jurgen Seefeldt dan Ludger Syre menjelaskan dalam salah satu babnya, bahwa keberadaan perpustakaan akan tetap abadi. Bentuk perpustakaan umum akan mengalami adaptasi sesuai dengan perkembangan dunia. Model atau konsep yang dijabarkan dalam buku  Portal To The Past and To The Future : Libraries in Germany adalah The Feel-good Library, The Network Library, dan The Combination Library.
The “Feel-good”Library (Perpustakaan yang menyenangkan) 

Perpustakaan di masa depan bukan lagi hanya tempat untuk meminjam dan mengembalikan buku. Perpustakaan menjadi tempat yang didatangi masyarakat untuk melakukan interaksi sosial. Interaksi sosial yang dimaksud adalah diskusi, workshop, pertemuan komunitas dan pengembangan kreatifitas, dll. Perpustakaan pada masa depan lebih mengutamakan ruangan yang nyaman dan menfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Konsep yang dikembangkan adalah mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat dengan cara memberikan faslitias tempat dan berbagai sumber daya untuk menfasilitasi berbagai kegiatan masyarakat. Membuka pintu terhadap semua kegiatan masyarakat yang bersifat positif dan membangun. Secara ringkas, “apapapun kegiatannya tidak menjadi soal, selama dilaksanakan di perpustakaan”.

Ruang perpustakaan di masa depan tentu saja menawarkasn sesuatu yang beda dan menjual kenyamanan kepada pemustaka. Ruangan ditata senyaman dan sesantai mungkin, untuk memberikan rasa senang dan gembira bagi pengunjungnya. Desain ruangan yang minimalis, modern, dinamis dan penuh warna, menjadi kewajiban. Perpustakaan tidak segan untuk mengubah desain ruangan menyerupai “ruang keluarga” yang hangat dan nyaman. Konsep ini memungkinkan pemustaka untuk melakukan kegiatan membaca, menelusur internet ditemani dengan secangkir kopi/teh. Di masa yang akan datang, akan sangat sulit memisahkan perpustakaan dengan café. Keberadaan café menjadi hal wajib yang ada di perpustakaan, selain memberikan ketenangan  dan kenyamanan, perpustakaan memanjakan pemustaka dengan memberikan fasilitas one stop shopping .
Pembangunan dan eksistensi perpustakaan di masa yang akan datang, ditentukan dari tahap konsep perencanaan bangunan dan penataan ruangan perpustakaan. Perpustakaan akan berlomba-lomba untuk menawarkan ruangan dan perabot yang tidak hanya bersifat fungsional, tapi juga menawarkan nilai artistik dan desain yang tidak biasa. Berbagai perabot perpustakaan dibuat perdasarkan permintaan khusus guna menunjang konsep perpustakaan modern. Penggunaan warna dan material yang digunakan di perpustakaan juga menjadi perhatian pengelola perpustakaan. Permainan warna cerah atau dominasi warna putih menjadi tren perpustakaan modern. Modern, minimalis, dan sederhana adalah penataan ruangan yang akan menjadi pilihan pengelola perpustakaan. Perpustakaan akan menjadi pusat dengan ruang atau bangunan pendukung seperti taman terbuka hijau, café yang nyaman, dan arena bermain ramah anak. Perpustakaan akan dibuat dengan konsep “green building” sejalan dengan konsep untuk ramah lingkungan.

The Network Library (Perpustakaan Jejaring)

Perpustakaan pada masa depan adalah perpustakaan yang dapat memenuhi segala kebutuhan informasi dari seluruh lapisan masyarakat dengan latar belakang pendidikan, usia, pekerjaan, ras, gender, dan minat yang berbeda. Temu kembali informasi dan penyebarluasan pengetahuan melalui perpustakaan hanya akan memakan waktu yang sangat singkat, dan tidak ada perpustakaan yang mengatakan tidak memiliki informasi tertentu, hanya karena sumber informasinya (buku/koleksi) tidak ada di perpustakaan tersebut. Konsep perpustakaan akan berubah dari perpustakaan lokal menjadi perpustakaan semesta/perpustakaan global.

perpus-masa-depan
Mewujudkan konsep tersebut, perpustakaan dituntut untuk melakukan jejaring atau kerjasama antara perpustakaan yang komitmen dan berkelanjutan. Perpustakaan akan berlomba-lomba membangun sebanyak-banyaknya jejaring dengan perpustakaan sejenis atau perpustakaan lain di luar lingkungan atau zona nyamannya. Tidak ada lagi pemikiran bahwa koleksi perpustakaan hanya bisa dimanfaatkan oleh anggota perpustakaan tersebut. Jaringan perpustakaan, memungkinkan untuk setiap anggota perpustakaan dapat mengakses koleksi perpustakaan lain yang telah berjejaring. Tidak diperlukan kartu tambahan untuk meminjam koleksi perpustakaan lain, karena dengan jaringan perpustakaan memungkingkan satu kartu berlaku untuk banyak perpustakaan.

Lebih hebat dari itu, pemustaka yang akan memanfaatkan perpustakaan tidak perlu menelusur di dalam perpustakaan, mereka dapat melakukannya di mana pun dengan menggunakan akses internet. Tanpa menunggu lama, koleksi yang diinginkan dapat dengan mudah dipesan dan diantar sesuai keinginan pemustaka. Tentu saja untuk mewujudkan pesan antar koleksi perpustakaan akan dikenakan biaya tertentu.

Mewujudkan “perpustakaan bersatu” harus dibarengi dengan keikhlasan tiap perpustakaan untuk saling memberikan akses koleksi perpustakaannya kepada mitranya. Semua itu bisa terwujud dengan terlebih dahulu dibuat keseragaman sistem yang digunakan. Sistem yang digunakan pada masa depan harus memungkinkan perpustakaan untuk berbagi data dan metadata tanpa harus memindah fisik koleksi. katalog harus berbasis web dan saling terintegrasi, perpustakaan yang bersikukuh dengan prinsip dan idelismenya untuk tidak memberikan akses kepada perpustakaan lain untuk bisa memanfaatkan, lambat laun akan ditinggalkan pemustaka.

The Combination Library (Fusi Perpustakaan)

Perpustakaan umum biasanya didanai oleh lembaga/instansi yang berbeda sesuai induk perpustakaan. Di masa depan, instansi induk perpustakaan umum dapat menggabungkan diri dan membuat perpustakaan yang lebih besar dan lebih luas pelayananya. Kondisi ini sangat dimungkinkan dengan adanya krisis ekonomi yang membawa dampak kepada semua sektor tanpa terkecuali perpustakaan.  Konsep penggabungan perpustakaan dimungkinkan di wilayah yang kecil dan perpustakaan umum tidak terlalu besar. Konsep ini menjawab tantangan akan hilangnya perpustakaan di masa depan, terutama di pedesaan.
Dampak ekonomi dan permintaan pemustaka yang semakin tinggi, menyebabkan perpustakaan kecil merasakan imbasnya. Untuk tetap bertahan dan menjaga eksistensinya, perpustakaan dituntut untuk bersifat luwes dan membuka diri dengan perubahan, termasuk didalamnya menggabungkan diri dengan perpustakaan lain yang sejenis atau yang lebih besar. Penggabungan perpustakaan dimungkinkan, namun tidak menghilangkan jati diri perpustakaan aslinya. Justru penggarbungan perpustakaan tersebut akan mebawa warna dan nuansa baru yang bisa jadi lebih menarik dari perpustakaan yang ada sebelumnya.

Penggabungan perpustakaan juga dapat dilakukan dengan menggabung beberapa perpustakaan dan meletakannya ada suatu lingkungan yang kondusif. Di mana di dalamnya dimungkinkan ada perpustakaan sekolah, pusat data, lembaga penyimpan arsip, pusat pendidikan, galeri seni dan perpustakaan umum kesemuanya berada dalam satu kawasan dan membentuk Pusat Informasi dan Budaya.

Bentuk penggabungan perpustakaan dengan instansi lain seperti pendidikan, arisp dan galeri seni akan menjadi konsep perpustakaan masa depan sekaligus menjawab eksistensi keberadaan perpustakaan pada sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. membaca konsep yang ditawarkan oleh Seefeldt dan Syre menimbulkan optimisme bahwa seberapa hebat apapun perkembangan teknologi, perpustakaan akan tetap ada dan menjadi alternatif utama dalam pemenuhan kebutuhan informasi masyarakat. Tentu saja dengan penyesuaian, inovasi dan kreatifitas menjadi tuntutan perpustakaan untuk senantiasa beradaptasi dengan perubahan yang dinamis.

Buku tercetak vs buku elektronik

Sejalan dengan keraguan akan eksistensi perpustakaan di masa depan, nasib buku tercetak juga menjadi perdebatan. Akankan buku tercetak akan sepenuhnya tergantikan dengan buku elektronik? Apakah perpustakaan tidak akan lagi dipenuhi koleksi buku tercetak?
Keberadaan buku elektronik hadir sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan. Manusia secara kodrati mencari cara yang termudah, termurah dan tercepat dalam memenuhi kebutuhannya, tidak terkecuali dalam memenuhi kebutuhan informasi. Manusia menciptakan berbagai terobosan untuk memotong secara hambatan dan menjadikan segalanya mudah dan instan. Dengan bekal inilah buku elektronik menjadi pembahasan di era elektronik seperti  sekarang ini. Isu ini membawa dampak yang positif sekaligus negatif bagi dunia perpustakaan, karena identik dengan buku, lalu bagaimana wujud perpustakaan tanpa koleksi tercetak?

Menjawab kekhawatiran tersebut, perpustakaan sebagai institusi pengumpul, pengolah dan penyebar ilmu pengetahuan memegang peran penting akan kelestarian buku tercetak dan pemanfaatan buku elektronik. Perpustakaan harus berinisiatif untuk mengenalkan buku elektronik kepada masyarakat karena tidak dapat dipungkiri buku elektronik dapat mempermudah akses terhadap buku tanpa harus mengunjungi perpustakaan. Dan buku elektronik juga lebih mudah dan ringan karena tidak perlu membaca buku seberat 2 kg, jika membaca buku sebanyak 300 halaman. Semuanya ada dalam genggaman sebuah tablet, layar komputer atau telepon selular. Hal ini memang tak dapat dipungkiri kehadirannya membawa manfaat besar bagi masyarakat.

Disamping segi positif keberadaan buku elektronik, secara bijak harus dipahami dampak negatifnya. Secara objektif, keberadaan buku elektronik juga mempunyai beberapa dampak negatif. Diluar keludahan dalam membaca buku 300 halaman hanya dalam satu file, membaca buku elektronik memerlukan keahlian tersendiri karena tidak semua orang bisa berlama-lama membaca di layar. Cahaya dipantulkan monitor atau layar telepon seluler menyebabkan mata lelah, hal ini menjadi salah kekurangan dalam membaca buku elektronik. Lebih jauh dari itu, buku elektronik dibaca dengan bantuan alat dan tergantung dengan koneksi internet dan aliran listrik. Sehingga ada kondisi di mana membaca buku elektronik sangat tidak memungkinkan terutama di daerah terpencil atau wilayah yang tidak terjangkau listrik dan jaringan internet. Memang sulit membayangkan ada wilayah di muka bumi ini yang belum terjamah oleh jaringan internet dan aliran listrik, namun kenyataanya segala perangkat eletronik yang ada di dunia ini belum tersalurkan secara merata. Akan ada wilayah yang sangat primitif dan tidak terjangkau oleh koneksi internet.

Masih ragu dan bertanya-tanya apakah perpustakaan masih akan di masa depan? Jawabnya adalah perpustakaan akan tetap ada selama masih ada manusia yang haus akan informasi dan pengetahuan. Bentuknya dan namanya bisa berganti sesuai perkembangan jaman, namun esensi sebuah perpustakaan tidak akan pernah hilang di muka bumi. [NT] “Without libraries what have we? We have no past and no future”
Ray Bradbury

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *